Ethiopia: Addis Ababa‘s bustling Katanga neighborhood | DW Documentary

Ethiopia: Addis Ababa‘s bustling Katanga neighborhood | DW Documentary

Katanga is a bustling district of Addis Ababa, Ethiopia’s capital city. Here, many locals dream of making it big in the capital. One is Enkehone, a street vendor from the countryside, who lives in Amele Mamo’s makeshift hostel. But perhaps not for long: the lively, inexpensive neighborhood has been discovered by real estate speculators.

Amele Mamo is a warm-hearted hostess who lives with her family in the back of her hostel. She rents beds to a wide variety of people. Young day laborers, mothers with children and anyone who needs a bed and a hot meal for a small price. Katanga is one of the last historical neighborhoods in the heart of Addis Ababa. But multi-story concrete blocks are closing in on all sides, threatening the neighborhood’s colorful hustle and bustle. One of the long-term guests in Amele’s accommodation is the young street vendor Enkehone, who left his mother in Gondar to seek his fortune in Addis Ababa. The camera accompanies him as he tries to work his way out of poverty. But during a police raid, Enkehone’s goods are confiscated. Suddenly, the young man is left with nothing once again.

#documentary #dwdocumentary #ethiopia #addisababa
______

DW Documentary (English): https://www.youtube.com/dwdocumentary
DW Documental (Spanish): https://www.youtube.com/dwdocumental
DW Documentary وثائقية دي دبليو (Arabic): https://www.youtube.com/dwdocarabia
DW Doku (German): https://www.youtube.com/dwdoku
DW Documentary हिन्दी (Hindi): https://www.youtube.com/dwdochindi

Apakah kita memeriksa orang yang menginap di sini tadi malam? Kita tak seharusnya menyewakan kamar padanya, ia mengompol! Orang di bawahnya bahkan tak masuk ke selimut. Ia tidur di atas penutup tempat tidur! Yang ini bagus. Ia bersih. Kita tak perlu membersihkan tempat tidurnya. Berikan kepadaku! Haruskah aku membawa sisanya? – Ya. Apakah enak, baba?

Terima kasih, kamu baik sekali! Terima kasih, saudariku. Yang ini berapa harganya? 85 birr. Bisa kurang? Bagaimana kalau 80 saja? Bolehkan? Tolonglah saya… – Tidak bisa kurang lagi. 80 boleh ya, Pak? Ada barang baru? – Hanya ini yang kami punya. Semuanya sudah ketinggalan zaman. Saya pikir saya melihat barang baru.

Yang itu sepatu perempuan. Saya perlu sepatu lelaki. Yang ini boleh. 5970. Sudah semuanya! Terima kasih! Saya akan kembali! Tolong beri jalan! Sepatu asli untuk anak-anak dan orang dewasa! Mau yang mana? Pasangan yang terakhir! Saya beri harga khusus! Pasti muat! Boleh dicoba dulu! Boleh,pasti muat! – Berapa? 270 birr. 270. Harga bagus!

Baiklah, 250, silakan ambil! Kembali, Bu! Sandal asli! Untuk orang dewasa dan anak-anak! Sandal asli! Untuk orang dewasa dan anak-anak! Cerita Katanga Distrik di Addis Ababa yang Menghilang Ibu Katanga! Tanah Katanga yang terberkati. Merangkul semua yang datang padanya. Ia memperlakukan si kaya dan si papa dengan setara. Si miskin yang mengunjunginya untuk semalam

Lebih bersyukur dibandingkan penduduknya sendiri. Tapi apa gunanya? Rumah-rumahnya akan kembali jadi debu. Menara akan menggantikannya. Saat waktu itu tiba, siapa yang akan ingat tempat tidur untuk 15 birr? Dan dengan makan 30 birr? Katangaku! Tempat tidur untuk malam ini! Chuchu dan Kuku tak akan berada di sana! Kuku itu apa? Tuan Kutu!

Bagaimana dengan Chuchu? Tuan Kepinding! Kalau kutu busuk? – Tidak ada di tempat saya. Bagaimana kamu menyebutnya? Penghisap darah? Ada tempat tidur untuk yang tak mabuk! Apa yang terjadi pada temanmu? Yang tidur di sampingmu? Katanya ia akan datang, tapi sampai sekarang belum sampai! Apa yang terjadi? Sepertinya ia ditangkap polisi.

Benarkah? – Ya aku yakin. Apa Amele akan mencarikanmu teman tidur baru? Mungkin. – Apa aku harus menggantikannya? Aku tidur di situ? Ya, kenapa tidak? – Tapi aku suka tempatku! Kamu lihat ini? Terlihat seperti bar! Kamu pergi besok? Itu rencanaku. Aku harus pergi karena ibuku sakit. Hanya tinggal kami berdua. Ibu membutuhkanku.

Ya, ibuku juga menelepon Amele hari ini. Ibumu? – Ya, ia memintaku pulang. Asalmu dari mana? Dari Gondar. Aku sudah sering datang ke Addis. Dulu aku berpikir banyak kesempatan di Addis. Hanya perlu kerja keras dan aku akan berhasil. Kota yang keras. Keluarkan sampah kalian! Keluarkan sampah kalian! Kamu mau apa? Beyaynet dan nasi.

Satu nasi dan satu beyaynet. Sedikit kentang untuk anak-anak. Baiklah. Jangan beri terlalu banyak saus! Tak baik untuk mereka! Mau tambah? Belum. Boleh minta shiro lagi? Lebih banyak shiro? – Ya. Boleh saja. Apa Anda butuh payung? Obral payung indah! Asli! Bagus untuk hadiah! Belilah sebelum hujan! Payung! Ibu, payung? Jadilah pembeli pertama.

Saya belum menjual apapun. Yang ini? Ada payung? – Ada. Coba yang ini! 150 boleh saya ambil? Terlalu murah! Benarkah? – Terlalu murah. Ayolah, 150 saja. – Baiklah! Yang itu 200. Itu harganya. Tak bisa kurang? Payung asli! Harganya sudah murah! Apa Anda tahu berapa modalnya? Modalnya 195, 5 birr itu batas saya.

Ini tas plastik untuk Ibu. Jadi ambil? Kembalilah! Saya beri diskon! 150! Bagaimana? Pak Polisi! Dagangan saya disita hari ini! Tolonglah saya! Jangan pegang saya! Lepaskan tanganmu! Tolong saya, Pak! Berbaik hatilah. Jangan mendekat! Bagaimana saya dapatkan kembali dagangan saya? Tolonglah saya! Aku terlalu keras padanya tadi. Hampir kembali seperti semula. Rentangkan tanganmu, sayang!

Rentangkan tanganmu….seperti itu! Anak pintar! Berhasil! -Ayuye! Jangan khawatir dia di sini. Dia sedang buang sampah dan akan kembali. Aku tak akan menyakitimu, sayang. Aku tak akan menyakitimu. Aku akan berhati-hati! Siapa yang melakukan ini pada bahumu? Abangmu, waktu kamu sedang bermain? Aziza! Tidak apa-apa, sayang. Ibu janji, akan hati-hati sayang! Mau apa sayang? Kue!

Ya akan ada kue. Nanti ibu ambilkan kue! Juga permen! Dan permen karet! Jangan biarkan abangmu, memegangmu dengan cara seperti itu ya. Jika ini tidak bertahan, saya akan buatkan gips dari bambu. Baiklah. Jika tidak mau hal itu terjadi, lakukanlah dengan hati-hati. Tangannya harus lurus. Tangannya terkilir di sini! Jaga agar tangannya lurus saat digendong.

Sayangku. Siapa yang menyakitimu? Tunggu saja, nanti kita balas mereka! Apa Aziza yang menyakitimu? Bukan. – Siapa? Abangku. Benarkah? Tunggu saja, nanti ibu balas! Enkehone, apakah polisi mengembalikan barangmu? Belum. Saya menyerah. Teman-temanmu tidak membantu? Mereka tidak bisa membantu. Polisi memberi saya tanda terima. Apa kamu membawanya? Tidak ada gunanya. Sekarang barang itu milik pemerintah.

Tak bisa ajukan permohonan? Tidak, sudah terlambat. Sayang sekali! Kamu akan segera menemukan pekerjaan baru dan bisa bangkit lagi. Baiklah. Berapa yang kamu butuhkan untuk mulai lagi? Banyak. Mereka menghargainya 8700 birr. Aku belum memberi tahu Ibu? Mereka mengambil sebanyak itu? – Ya. Kamu bisa mulai kecil-kecilan. – Ya. Kamu akan bangkit lagi.

Aku masih punya uang. Apa ya? Ini. Sudah mau berangkat. Aku senang kamu menelepon. Aku berniat mengunjungimu. Aku dengar kamu kembali ke kota. Mengapa kamu tidak meneleponku? Aku menelepon. Apa aku harus membawamu kerja? Maksudku waktu aku masih di rumah. Aku tidak bisa. Aku juga sedang bermasalah. Tak apa. Aku senang kamu meneleponku.

Tak masalah. Lebih baik kita bekerja sama. Kamu mengerti, bukan? Kita harus saling membantu. Hai kawan. Bagaimana kabarmu? Kami baik. Bagaimana kalian berdua? Hai, saudaraku! Kami mencari pekerjaan. Kalian yang menelepon? Ya, itu kami. Oke, kalian bisa apa? Kami bisa…. Kerja harian? – Ya. Upahnya 110 birr per hari. Kalau setuju silakan bekerja.

Bisa naik sedikit? Ini tarif yang biasa. Mulai jam 8, istirahat jam 12. Kembali jam 1 dan selesai jam 5. Pulang jam 5? Ya, kalau terlambat bayarannya dipotong. Kami tak akan terlambat. Kami serius ingin bekerja di sini. Tolong pindah, Yonas. Bawalah ke sana! Haruskah kami taruh di luar? Oke. Bawalah ke sini!

Kita akan menumpuknya di sini. Ya, untuk nanti. Ayolah! Ayo! Bergabunglah dengan kami, sayang! Zerua, menarilah! Aku pandai menari, bukan? Kita bisa lakukan semuanya! Aku tahu Meski bisa menari. Tapi ia hanya mau menari dengan anaknya. Gaya menarimu keren, sayang. Itu dia! Kamu mau? Ayo ambillah! Kamu mau? Itu dia!

Lindunglah kami dari mereka yang iri, suka bergosip, kurang ajar. Dari lelaki tak punya uang dan roh jahat! Amin! Berkatilah usaha kami. – Amin. Biarkan mereka kagum akan keberuntungan kita. Amin! Kuatkanlah cinta kami! Berikanlah rumah untuk anak-anak jalanan! Amin! Semoga hidup mereka baik! Berikanlah kenyamanan dan kemewahan! Khat jenis apa yang kamu beli?

Sangat kering. Tapi cukup lumayan. Memang ini yang aku butuhkan. Apa yang ini sudah siap? Dulu, biasanya kami saling memanggil untuk minum kopi bersama. Oh jiwa yang baik, yang tertidur nyenyak. Oh jiwa yang baik, yang tertidur nyenyak. Tinggalkan kenyamanan dunia hari ini dan bagilah apa yang kamu punya.

Dunia ini akan berakhir, masa mudamu hari ini. Dunia ini akan berakhir, masa mudamu hari ini. Hanya kebaikanmu yang akan jadi milikmu. Senyummu mengatakan kamu mengenal kegembiraan. Matamu mengatakan kamu melihat banyak hal. Kenyamananmu mengatakan kamu berhasil. Kamu adalah perempuan berani dan penyayang. Marilah kita berbagi dan tersenyum.

Esok hari adalah penunggang kuda dengan kejutan gelap. Semoga Tuhan memberikanmu makananmu. Semoga Dia membuatnya selebar bayang-bayang malam. Karena kamu adalah lelaki baik yang tak membantah. Nona, jangan biarkan hatimu mengeras. Rupamu seperti seorang ibu dengan anak-anak yang cantik. Teman Santo Mikael, seanggun awan di bulan Juli! Tuhan memberkatimu dan keluargamu!

Semoga Ia memberkatimu dengan kesehatan! Semoga aku selalu menemukanmu di sini! Kemarilah, Manke! Kemarilah sayangku! Kemari! Ya, sayang? Apa kabar? Kemarilah! Bagaimana kabarmu? Kamu terlalu bahagia! Usirlah kambing-kambing ini! Usirlah mereka! Usir mereka! Ayo sekarang masuk! Masuk ke rumahmu! Dia harus di dalam, bukan? Ya tolong. Karenanya aku tak bisa kerja! Masuklah sekarang!

Cepat, ke dalam, sekarang! Ya, begitu! Masuk! Aku pergi sekarang! Semoga harimu baik, Amele! Kamu juga! Semoga harimu menyenangkan! Cerita Katanga

Video “Ethiopia: Addis Ababa‘s bustling Katanga neighborhood | DW Documentary” was uploaded on 05/21/2023 by DW Documentary Youtube channel.